Sejarah Paroki

Keputusan mendirikan gereja Pada 21 Mei 1938 Prefektur Apostolik

Banjarmasin dibentuk dan Pastor J. Kusters, MSF diangkat sebagai prefek apostolik. Sebelumnya, karya misi Katolik di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur ada di bawah pimpinan Vikaris Apostolik di Pontianak. Saat pelantikan sebagai prefek Apostolik pada 19 Oktober 1938, Mgr. Kusters mendengar bahwa di wilayah Kelayan Banjarmasin ada sekolah Katolik, ada bruder-bruder MTB, ada suster-suster SFD dan ada pastor yang menangani sekolah. Beliau sangat heran karena di Kelayan tersebut tidak ada gereja dan tidak ada pastor yang khusus menangani karya misi padahal orang Katolik di situ hampir tidak ada. Untuk itu Mgr. Kusters mengambil keputusan untuk mendirikan gereja. Tak lama kemudian, pada awal tahun 1939, dilakukan pembangunan gereja Kelayan dengan biaya senilai Fl.5.000,- Dari kacamata manusia, keputusan membangun gereja ini merupakan keputusan yang tidak masuk akal. Mengingat sebenarnya pada saat itu satu bangku dengan panjang 3 (tiga) meter sudah cukup untuk menampung para bruder dan suster untuk mengikuti perayaan/upacara gerejani. Selain itu belum ada pastor yang khusus yang menangani gereja serta belum ada umat Katolik, Namun inilah karya dan anugerah Tuhan dalam perjalanan umat beriman di daerah tersebut.

Pembangunan, pemberkatan dan pendirian gereja

Pada 5 November 1939, gereja di Kelayan selesai dibangun dan diberkati oleh Mgr. J. Kusters (Prefek Apostolik Banjarmasin kala itu). Untuk sementara sebagian gereja dipakai sebagai tempat tinggal Pastor Schoone. Beberapa hari kemudian, pada 11 November 1939 gereja Kelayan dengan pelindung “Immaculata Conceptio Beatae Mariae Virginis” didirikan sebagai gereja kedua di Banjarmasin setelah Katedral. Nama ini dipilih untuk menghormati kongregasi para Bruder MTB. Sungai Martapura menjadi batas antara gereja Kelayan dan gereja Katedral. Pater Adam Janmaat, MSF diangkat menjadi pastor pertama gereja Kelayan.

Salah seorang suster dalam kroniknya menuliskan situasi awal pendirian gereja, “Kami (suster-bruder-pastor) dapat bekerjasama dengan cara yang menyenangkan. Dari sisi pemeliharaan rohani, kami mendapatkan pelayanan yang prima dari pastor yang selalu siap membantu. Meskipun belum ada umat Katolik, namun upacaraupacara gerejani dilaksanakan semulia mungkin. Hal ini memberikan kekuatan dan kesegaran bagi kami di tengahtengah pekerjaan yang berat serta kesulitan-kesulitan dalam mengelola sekolah.” Setahun setelah menjadi pastor di gereja Kelayan, Pastor Adam Janmaat MSF dipindahtugaskan ke Balikpapan pada 17 Juli 1940. Pastor Schoone MSF menggantikan Pastor Janmaat dan menjadi pastor kedua di gereja yang baru didirikan tersebut.

Sejarah perkembangan Paroki Kelayan dapat dibaca pada booklet digital di bawah atau dapat didownload disini

Please wait while flipbook is loading. For more related info, FAQs and issues please refer to DearFlip WordPress Flipbook Plugin Help documentation.