Peringatan Gerejawi

Santa Perawan Maria Ratu Rosario

Pada tanggal 7 Oktober 1571 terjadi suatu pertempuran armada laut yang dahsyat di Laut Tengah, dekat pantai Yunani. Tempat itu disebut Lepanto. Turki memiliki angkatan laut yang paling kuat di bawah pimpinan Halifasha. Sebelum pertempuran ini, Turki telah menyerang semua pelabuhan Katolik di Eropa. Paus Pius V yang pada waktu itu duduk di Takhta Santo Petrus di Roma menyerukan supaya semua orang Katolik di Eropa bersatu dan bertahan terhadap serangan armada Halifasha. Kemudian Paus menunjuk Don Yuan dari Austria menjadi komandan armada gabungan Eropa yang akan menghadapi armada Turki.

Don Yuan terkenal memiliki devosi yang sangat kuat kepada Bunda Maria. Ketika tentara Katolik naik ke kapal untuk diberangkatkan ke medan perang, mereka masing-masing diberi rosario di tangan kanan, sementara tangan kiri mereka memegang senjata. Paus yang menyadari armada ini tidak ada artinya dibandingkan dengan armada Turki yang jumlahnya tiga kali lipat, meminta agar seluruh penduduk Eropa berdoa rosario. Di mana-mana orang berdoa rosario selama 24 jam terus-menerus.

Pada pukul 11.30 kedua armada itu mulai bertempur dengan dahsyat hingga baru berakhir keesokan harinya pukul 17.30 dan mukjizat terjadi di sana. Ketika pertempuran sedang berlangsung sengit, tiba-tiba angin berubah arah sehingga menguntungkan pihak armada Katolik. Armada Turki berhasil dikalahkan. Halifasha mati terbunuh. Karena kemenangan rosario ini, maka tanggal 7 Oktober ditetapkan sebagai peringatan wajib Santa Perawan Maria Ratu Rosario.

15 JANJI BUNDA MARIA BAGI MEREKA YANG SETIA BERDOA ROSARIO

  1. Mereka yang dengan setia mengabdi padaku dengan mendaraskan rosario, akan menerima rahmat-rahmat yang berdaya guna.
  2. Aku menjanjikan perlindungan istimewa dan rahmat-rahmat terbaik bagi mereka semua yang mendaraskan rosario.
  3. Rosario akan menjadi perisai ampuh melawan neraka. Rosario melenyapkan sifat-sifat buruk, mengurangi dosa dan memenaklukkan kesesatan.
  4. Rosario akan menumbuhkan keutamaan-keutamaan dan menghasilkan buah dari perbuatan-perbuatan baik. Rosario akan memperolehkan bagi jiwa belas kasihan melimpah dari Allah, akan menarik jiwa dari cinta akan dunia dan segala kesia-siaannya, serta mengangkatnya untuk mendamba hal-hal abadi. Oh, betapa jiwa-jiwa akan menguduskan diri mereka dengan sarana ini.
  5. Jiwa yang mempersembahkan dirinya kepadaku dengan berdoa rosario tidak akan binasa.
  6. Ia yang mendaraskan rosario dengan khusuk, dengan merenungkan misteri-misterinya yang suci, tidak akan dikuasai kemalangan. Tuhan tidak akan menghukumnya dalam keadilan-Nya, ia tidak akan meninggal dunia tanpa persiapan; jika ia tulus hati, ia akan tinggal dalam keadaan rahmat dan layak bagi kehidupan kekal.
  7. Mereka yang memiliki devosi sejati kepada rosario tidak akan meninggal dunia tanpa menerima sakramen-sakramen Gereja.
  8. Mereka yang dengan setia mendaraskan rosario, sepanjang hidup mereka dan pada saat ajal mereka, akan menerima Terang Ilahi dan rahmat Tuhan yang berlimpah; pada saat ajal, mereka akan menikmati ganjaran pada kudus di surga.
  9. Aku akan membebaskan mereka, yang setia berdevosi rosario, dari api penyucian.
  10. Putera-puteri rosario yang setia akan diganjari tingkat kemuliaan yang tinggi di surga.
  11. Kalian akan mendapatkan segala yang kalian minta daripadaku dengan mendaraskan rosario.
  12. Aku akan menolong mereka semua yang menganjurkan rosario suci dalam segala kebutuhan mereka.
  13. Aku mendapatkan janji dari Putra Ilahiku bahwa segenap penganjur rosario akan mendapat perhatian surgawi secara khusus sepanjang hidup mereka dan pada saat ajal.
  14. Mereka semua yang mendaraskan rosario adalah anak-anakku, saudara dan saudari Putra tunggalku, Yesus Kristus.
  15. Devosi kepada rosarioku merupakan pratanda keselamatan yang luhur.

Selamat memperingati Santa Perawan Maria Ratu Rosario bagi kita semua. Santa Perawan Maria Ratu Rosario, doakanlah kami.

Sumber: http://yesaya.indocell.net/id59.htm

Posted by Komsos Paroki in Peringatan Gerejawi

Santo Fransiskus dari Assisi

Santo Fransiskus dilahirkan di kota Assisi, Italia pada tahun 1181. Ayahnya bernama Pietro Bernardone, seorang pedagang kain yang kaya raya, dan ibunya bernama Donna Pica. Di masa mudanya, Santo Fransiskus lebih suka bersenang-senang dan menghambur-hamburkan harta ayahnya daripada belajar. Ketika usianya 20 tahun, ia ikut maju berperang melawan Perugia. Ia tertangkap dan disekap selama satu tahun hingga jatuh sakit. Pada masa itulah ia mendekatkan diri kepada Tuhan. Setelah Fransiskus dibebaskan, ia mendapat suatu mimpi yang aneh. Dalam mimpinya, ia mendengar suara yang berkata, “layanilah majikan dan bukannya pelayan.”

Setelah itu Santo Fransiskus memutuskan untuk hidup miskin. Ia pergi ke Roma dan menukarkan bajunya yang mahal dengan seorang pengemis, setelah itu seharian ia mengemis. Semua hasilnya dimasukkan Fransiskus ke dalam kotak persembahan untuk orang-orang miskin di Kubur Para Rasul. Ia pulang tanpa uang sama sekali di sakunya. Suatu hari, ketika sedang berdoa di Gereja San Damiano, Santo Fransiskus mendengar suara Tuhan, “Fransiskus, perbaikilah Gereja-Ku yang hampir roboh”. Jadi, ia pergi untuk melaksanakan perintah Tuhan. Ia menjual setumpuk kain ayahnya yang mahal untuk membeli bahan-bahan guna membangun gereja yang telah tua itu.

Mengetahui hal itu, ayahnya marah sekali! Santo Fransiskus dikurungnya di dalam kamar. Santo Fransiskus, dengan bantuan ibunya, berhasil melarikan diri dan pergi kepada Uskup Guido, Uskup kota Assisi. Ayahnya segera menyusulnya. Ia mengancam jika Santo Fransiskus tidak mau pulang bersamanya, ia tidak akan mengakui Santo Fransiskus sebagai anaknya dan dengan demikian tidak akan memberikan warisan barang sepeser pun kepada Santo Fransiskus. Mendengar itu, ia malah melepaskan baju yang menempel di tubuhnya dan mengembalikannya kepada ayahnya.

Sejak saat itu dia mulai mengunjungi rumah sakit, melayani orang sakit, berkhotbah di jalan-jalan, dan memandang semua orang baik laki-laki maupun perempuan sebagai saudara kandung. Orang-orang banyak  mulai tertarik untuk mengikuti teladan hidupnya. Hingga pada tahun 1209 ia memperoleh restu dari Paus mendirikan Ordo Fransiskan yang mendasarkan hidup mereka pada kesederhanaan dan kemisikinan.

Pada bulan September 1224 saat Fransiskus sedang dalam meditasi di Mount Alvernia di Apennines, ia menerima stigmata, yang kemudian secara periodik berdarah selama dua tahun sisa hidupnya. Mukjizat ini memiliki peringatan yang terpisah pada tanggal 17 September. Ia sangat bersyukur menerima anugerah Ilahi ini namun ia berusaha dengan seksama untuk menyembunyikannya dari penglihatan orang lain.

Orang kudus ini dijemput kembali ke surga pada tanggal 3 Oktober 1226, dalam usia 45 tahun. Para pengikutnya kemudian melanjutkan karya cinta kasihnya dengan semangat kerendahan hati dan meneruskan kerinduannya untuk memanggil semua orang menjadi pengikut Kristus yang sejati.

Selamat pesta nama bagi umat/wilayah/komunitas bernama pelindung Fransiskus dari Assisi, khususnya bagi Kongregasi Suster-suster Fransiskus Dina (SFD). Santo Fransiskus dari Assisi, doakanlah kami.

Sumber: https://katakombe.org/para-kudus/fransiskus-asisi.html

Posted by Komsos Paroki in Peringatan Gerejawi

Para Malaikat Pelindung

MOHON DOA MALAIKAT PELINDUNG

Malaikat Allah, Engkau diutus oleh Allah untuk melindungi umatNya
dan menghantar mereka ke tempat yang telah ditentukan olehNya.
Ya malaikat pelindungku, aku bersyukur kepada Allah
karena Dia sendiri berkenan  mengutus Engkau mendampingi dan melindungi aku.
Sudilah Engkau, melindungi aku terhadap semua yang membahayakan diriku,
bila bahaya itu sudah dekat, sudilah Engkau melawannya demi keselamatanku,
sedangkan kalau bahaya itu masih jauh, bimbinglah aku memempuh jalan lain yang lebih aman.

Semoga Engkau selalu mengingatkan aku akan kebaikan,
dan jangan merelakan aku melakukan hal hal yang kurang berkenan pada Allah.
Kalau aku menghadapi godaan mohonkanlah kekuatan dari Allah
agar aku tidak goyah dan kalau aku jatuh ke dalam dosa,
sudilah Engkau membimbing aku untuk bertobat.
Lindungilah aku dalam ketenangan dan jagalah aku bila aku tidur,
sudilah Engkau memberikan kekuatan bila aku lemah

Doakanlah aku selalu agar dapat mengamalkan hidup kristen dengan tulus hati.
Mohonkanlah aku rahmat Allah agar aku mampu menjadi pewarta kabar gembira,
seperti Malaikat Gabriel dan penumpas kejahatan seperti Malaikat Mikael.
Ya Malaikatku, semoga aku selalu mengikuti bimbinganMu
dan bersama Engkau perkenankanlah aku selalu melambungkan pujian
serta syukur kepada Allah dengan perantaraan Kristus, Tuhan kita. Amin.

Selamat pesta Para Malaikat Pelindung untuk kita semua. Para Malaikat Pelindung, doakanlah kami.

Sumber: http://kumpulandoadoakatolik.blogspot.com/2012/03/mohon-doa-malaikat-pelindung.html

Posted by Komsos Paroki in Peringatan Gerejawi

Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus

Theresia Martin dilahirkan di kota Alençon, Perancis, pada tanggal 2 Januari 1873. Dia memiliki empat saudara perempuan yang lebih tua dan orang tuanya adalah Santo Louis Martin dan Santa Zelie Martin. Santa Theresia seorang gadis yang sangat ceria, ia sangat dicintai ayahnya yang memanggilnya nya dengan sebutan ‘ratu kecil.’ Ketika Santa Theresia masih kanak-kanak, ibunya meninggal dunia. Ayahnya lalu memutuskan untuk pindah ke kota Lisieux, di mana kerabat mereka tinggal. Disana terdapat sebuah biara Karmel di mana para suster berdoa secara khusus untuk kepentingan seluruh dunia.

Ketika Santa Theresia berumur sepuluh tahun, seorang kakaknya, Pauline, masuk biara Karmel di Lisieux. Hal itu amat berat bagi Santa Theresia. Pauline telah menjadi ‘ibunya yang kedua’, merawatnya dan mengajarinya, serta melakukan semua hal seperti yang dilakukan ibunya. Santa Theresia sangat kehilangan Pauline hingga ia sakit parah. Meskipun sudah satu bulan Santa Theresia sakit, tak satu pun dokter yang dapat menemukan penyakitnya. Ayah dan keempat saudarinya berdoa memohon bantuan Tuhan. Hingga, suatu hari ia melihat patung Bunda Maria di kamarnya tersenyum padanya dan seketika ia sembuh  dari penyakitnya!

Santa Theresia sangat mencintai Yesus. Ia ingin mempersembahkan seluruh hidupnya bagi-Nya. Ia ingin masuk biara Karmel agar ia dapat menghabiskan seluruh harinya dengan bekerja dan berdoa bagi orang-orang yang belum mengenal dan mengasihi Tuhan. Tetapi saat itu ia terlalu muda. Jadi, ia berdoa dan menunggu. Ia bahkan berani meminta izin langsung kepada Paus. Hingga akhirnya, ketika umurnya lima belas tahun, atas izin khusus dari Paus Leo XIII, ia diijinkan masuk biara Karmelit di Lisieux.

Dalam biara, Santa Theresia menjalani kehidupan sebagaimana layaknya seorang Rubiah Karmelit. Tidak ada yang terlalu istimewa. Tetapi, ia mempunyai suatu rahasia: CINTA. Suatu ketika Santa Theresia mengatakan, “Tuhan tidak menginginkan kita untuk melakukan ini atau pun itu, Ia ingin kita mencintai-Nya.” Jadi, Santa Theresia berusaha untuk selalu mencintai. Ia berusaha untuk senantiasa lemah lembut dan sabar, walaupun itu bukan hal yang selalu mudah.

Para suster biasa mencuci baju-baju mereka dengan tangan. Suatu saat seorang suster tanpa sengaja selalu mencipratkan air kotor ke wajah Santa Theresia. Tetapi Santa Theresia tidak pernah menegur atau pun marah kepadanya. Santa Theresia juga menawarkan diri untuk melayani suster tua yang selalu bersungut-sungut dan banyak kali mengeluh karena sakitnya. Ia berusaha melayani dia seolah-olah ia melayani Yesus. Ia percaya bahwa jika kita mengasihi sesama, kita juga mengasihi Yesus. Mencintai adalah pekerjaan yang membuat Santa Theresia sangat bahagia.

Hanya sembilan tahun lamanya Santa Theresia menjadi biarawati. Ia terserang penyakit tuberculosis (TBC) yang membuatnya sangat menderita. Kala itu belum ada obat yang dapat menyembuhkan penyakit TBC.  Ketika ajal menjelang, ia memandang salib dan berbisik, “O, aku cinta pada-Nya, Tuhanku, aku cinta pada-Mu!”

Pada tanggal 30 September 1897, Santa Theresia meninggal dunia ketika usianya masih 24 tahun. Sebelum wafat, ia berjanji  untuk tetap mencintai dan menolong sesama dari surga dengan mengatakan, “Dari surga aku akan berbuat kebaikan bagi dunia.” Dan ia menepati janjinya! Semua orang dari seluruh dunia yang memohon bantuan Santa Theresia untuk mendoakan mereka kepada Tuhan telah memperoleh jawaban atas doa-doa mereka.

Setelah wafat, Santa Theresia menjadi terkenal setelah buku catatan yang ditulisnya diterbitkan menjadi sebuah buku “Kisah Suatu Jiwa,”  satu tahun setelah kematiannya (di Indonesia diterjemahkan dengan judul: ‘Aku Percaya akan Cinta Kasih Allah’). Ia dikanonisasi pada tahun 1925 oleh Santo Paus Pius X. Ia dikenal dengan sebutan Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus atau Santa Theresia si Bunga Kecil. Tanggal 19 Oktober 1997, Theresia  menjadi wanita ketiga yang diberi gelar Doktor Gereja.

Selamat pesta nama bagi umat/wilayah/komunitas bernama pelindung Theresia dari Kanak-kanak Yesus. Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus, doakanlah kami.

Sumber: https://katakombe.org/para-kudus/theresia-dari-kanak-kanak-yesus.html

Posted by Komsos Paroki in Peringatan Gerejawi

Santo Hieronimus

Pujangga besar Gereja ini lahir di Strido, sebuah daerah di perbatasan Pannonia dan Dalmatia, pada abad ke-4. Ayahnya mengajarkan agama dengan baik kepadanya, tetapi mengirim Santo Hieronimus ke sebuah sekolah kafir yang terkenal. Di sekolah tersebut, ia mulai menyukai tulisan-tulisan kafir dan cintanya kepada Tuhan mulai luntur. Namun demikian, persahabatannya dengan sekelompok orang-orang Kristiani yang kudus, yang menjadi sahabat-sahabat dekatnya, membuatnya berbalik kembali sepenuhnya kepada Tuhan.

Karena hasratnya yang menggebu-gebu untuk hidup bermatiraga, ia lalu meninggalkan kota Roma untuk menyepi ke padang gurun. Selama beberapa waktu dia tinggal di Gurun Chalcis, arah Barat Daya dari kota Antiokhia, yang dikenal sebagai Thebaid Syria. Disana ia berkenalan dengan seorang pertapa Yahudi Kristen yang kemudian mengajarinya bahasa Ibrani.  Sejak itu Santo Hieronimus menjadi tertarik pada kitab-kitab berbahasa Ibrani, yang menurut kaum Yahudi Kristen tersebut adalah sumber dari kitab Matius yang kanonik.

Ditahun 378 atau 379, dia ditahbiskan sebagai seorang Imam oleh Uskup Paulinus di Antiokhia. Santo Hieronimus sebenarnya tidak terlalu berkeinginan untuk menjadi Imam, yang terpenting baginya adalah bagaimana ia dapat membersihkan jiwanya dengan cara bertapa dan bermatiraga. Oleh karena itu ia meminta agar tetap diperbolehkan melanjutkan pola hidup asketisnya yang keras setelah ditahbiskan.

Segera setelah itu Santo Hieronimus berangkat ke Konstantinopel untuk melanjutkan studinya dalam bidang Kitab Suci di bawah bimbingan Santo Gregorius Nazianzen.  Ia tinggal di Konstantinopel selama beberapa tahun lalu pindah ke Roma. Keberadaannya kembali di Roma mula-mula karena diundang untuk menghadiri sinode tahun 382 yang digelar dengan tujuan mengakhiri skisma di Antiokhia; namun  kecerdasannya memukau Paus Damasus I dan para tokoh Kristen di Roma. Sri Paus kemudian memintanya berkerja sebagai anggota dewan penasihat kepausan.

Salah satu yang paling penting di antara berbagai tugas yang diberikan Paus kepadanya adalah melakukan revisi terhadap naskah Alkitab berbahasa Latin berbasis Perjanjian Baru Yunani dan Perjanjian Lama Ibrani, dengan maksud menyudahi penyimpangan-penyimpangan yang terdapat dalam naskah-naskah Gereja Barat pada masa itu.  Sebelum adanya karya terjemahan Santo Hieronimus, seluruh terjemahan Kitab Perjanjian Lama didasarkan atas Septuaginta. Meskipun ditentang oleh banyak warga Kristen, ia memilih untuk menggunakan Kitab Perjanjian Lama berbahasa Ibrani, bukannya Septuaginta. Penugasan untuk menerjemahkan Alkitab ke dalam Bahasa Latin menentukan rentang kegiatan kesarjanaannya selama bertahun-tahun, dan merupakan pencapaian terpenting yang berhasil diraihnya. Alkitab yang diterjemahkannya itu dikemudian hari disebut Vulgata karena menggunakan bahasa sehari-hari yang dituturkan oleh masyarakat pada masa itu.

Di Roma, Santo Heironimus menjadi seorang Imam yang sangat berpengaruh; bukan saja karena tingkat keilmuannya yang luar biasa, melainkan juga karena komitmennya untuk tetap hidup sebagai seorang pertapa dengan pola hidup asketis yang sangat keras, dan juga karena usahanya yang sungguh-sungguh untuk tetap hidup suci.

Pada bulan Agustus 385, Santo Hieronimus kembali ke Antiokhia bersama saudaranya Paulinianus, para sahabatnya termasuk beberapa orang bangsawan Roma yang telah memutuskan untuk mengikutinya meninggalkan kehidupan duniawi dan menghabiskan masa hidup mereka di Tanah Suci. Pada musim dingin tahun 385, Santo Hieronimus menyertai perjalanan dan bertindak selaku penasehat spiritual mereka. Bersama Uskup Paulinus dari Antiokhia yang menggabungkan diri kemudian, para pertapa ini berziarah mengunjungi Yerusalem, Betlehem, dan tempat-tempat suci di Galilea, lalu berangkat ke Mesir, yang kemudian menjadi ‘markas’ sementara dari para pertapa Kristen ini.

Menjelang akhir musim panas tahun 388, Santo Hieronimus dan para sahabatnya kembali ke Palestina dan menetap hingga akhir hayatnya di sebuah gua pertapaan di sebelah gua tempat Yesus dilahirkan di Betlehem.  Ia meninggal dunia di dekat kota Betlehem pada tanggal 30 September 420. Jenazahnya mula-mula dimakamkan di Betlehem, dan konon kemudian dipindahkan ke Gereja Santa Maria Maggiore di Roma.

Selamat pesta nama bagi umat/wilayah/komunitas bernama pelindung Hieronimus. Santo Hieronimus, doakanlah kami.

Sumber: https://katakombe.org/para-kudus/september/hieronimus.html

Posted by Komsos Paroki in Peringatan Gerejawi

Malaikat Agung

Pada tanggal 29 September, Gereja merayakan Pesta Malaikat Agung: Santo Gabriel, Santo Mikael, dan Santo Rafael. Berikut adalah ‘profil’ singkat dari masing-masing Malaikat Agung tersebut.

Santo Gabriel
Artinya ‘kekuatan dari Allah’. Ia adalah pelayan dan utusan Allah yang membantu kita untuk mengerti misteri dan kehendak Allah. Ia adalah pembawa warta keselamatan sekaligus memberikan penerangan ilahi sehingga terbukalah budi dan hati manusia untuk memahami dan meyakini kehendak Allah. Secara khusus, ia diutus untuk membawa kabar gembira kepada Maria yang telah dipilih menjadi Bunda Sang Juruselamat. Melalui kisah Santo Gabriel, kita diajak untuk menjadi utusan Allah sebagai pembawa kabar baik kepada sesama.

Santo Mikael
Artinya ‘siapa yang seperti Allah’. Ia adalah panglima perang yang memimpin bala tentara malaikat mencampakkan setan dan para pemberontak ke dalam neraka. Pada akhir zaman, ia akan menghunuskan pedang keadilan guna memisahkan yang baik dari yang jahat. Ia pembela kita dalam menghadapi roh jahat. Gereja mengakui, ia sebagai pelindung dan pembela Gereja dalam penganiayaan, godaan, dan perpecahan. Melalui perantaraan Santo Mikael, kita diajak untuk selalu mengandalkan Tuhan.

Santo Rafael
Artinya ‘kesembuhan dari Allah’. Ia adalah penyembuh dan teman perjalanan. Gereja menghormatinya sebagai teman perjalanan hidup sekaligus tabib Allah yang diutus untuk menyembuhkan dan membebaskan manusia dari perhambatan setan. Melalui perantaraannya, kita diajak untuk menjadi orang yang membawa kesembuhan bagi sesama, baik secara jasmani maupun rohani.

Kita patut bersyukur kepada Tuhan untuk para Malaikat Agung ini, karena kita diingatkan akan sikap yang harus kita ambil untuk menyenangkan hati Tuhan. Semoga kita juga selalu berupaya menjadi berkat bagi orang lain dengan sikap, ucapan, dan tindakan kita yang kudus dan tulus setiap harinya.

Selamat pesta nama bagi umat/wilayah/komunitas bernama pelindung Gabriel, Mikael, dan Rafael. Malaikat Agung Allah, doakanlah kami.

Sumber: https://avilashop.com/news/read/pesta-para-malaikat-agung-st-michael-st-rapahel-dan-st-gabriel

Posted by Komsos Paroki in Peringatan Gerejawi

Santo Vinsensius a Paulo

Santo Vinsensius a Paulo lahir pada tahun 1581 di Pouy, Provinsi Guyenne dan Gascony, Perancis, dari keluarga petani yang miskin. Ia memiliki empat orang saudara dan dua orang saudari. Pada usia muda ia sudah menunjukkan bakat dalam membaca dan menulis. Karena itu saat ia berusia 15 tahun, ayahnya mengirimkannya untuk bersekolah, untuk membiayai pendidikannya ayahnya menjual sapi milik keluarganya. 

Dia Belajar humaniora di Dax, Perancis dengan Cordeliers dan ia lulus dalam teologi di Toulouse. Dia ditahbiskan pada tahun 1600 pada usia sembilan belas tahun. Santo Vinsensius tinggal di Toulouse sampai ia pindah di Marseille. Pada 1605, dalam perjalanan kembali dari Marseille, kapalnya di bajak dan ia ditangkap oleh bajak laut, yang kemudian membawanya ke Tunisia. Disana Santo Vinsensius kemudian dijual sebagai budak. Ia hidup sebagai budak selama dua tahun. Pada akhirnya dia menjadi milik seorang Kristen murtad yang kemudian dengan dibantu oleh istri majikannya Santo Vinsensius beserta semua budak-budak dirumah itu dapat melarikan diri.

Santo Vinsensius a Pulo lolos tahun 1607. Setelah kembali ke Perancis, lalu pergi ke Roma. Di sana ia melanjutkan studinya sampai 1609, Ketika ia dikirim kembali ke Perancis. Pada awalnya, Santo Vinsesius diberi jabatan penting sebagai guru anak-anak orang kaya, dan ia hidup dengan cukup nyaman. Hingga suatu hari, ia dipanggil untuk memberikan sakramen terakhir kepada seorang petani miskin yang sedang menghadapi ajal. Di hadapan banyak orang, petani tersebut menyatakan betapa buruknya pengakuan-pengakuan dosa yang ia buat di masa silam. Sekonyong-konyong Pastor Vinsensius sadar akan mendesaknya kebutuhan kaum miskin papa Perancis akan pertolongan rohani. Ketika ia mulai berkhotbah kepada mereka, orang berduyun-duyun datang untuk mengaku dosa.

Pada akhirnya Santo Vinsensius memutuskan untuk membentuk suatu kongregasi imam yang secara khusus yang bekerja di antara pada fakir miskin (dikenal dengan nama Kongregasi Misi atau Vinsensian, atau Lazarites/Lazarists/Lazarians). Karya amal Santo Vinsensius a Paul demikianlah banyak sehingga rasanya tidaklah mungkin bagi seseorang untuk melakukan segala hal yang telah ia lakukan. Ia memberikan perhatian kepada para narapidana yang bekerja pada kapal-kapal pelayaran.

Ia bersama dengan Santa Louise de Marillac mendirikan Kongregasi Suster-suster Puteri Kasih (Daughter of Charity). Ia mendirikan rumah-rumah sakit serta wisma-wisma bagi anak-anak yatim piatu serta orang-orang lanjut usia. Ia mengumpulkan sejumlah besar uang untuk disumbangkan ke daerah-daerah miskin dan mengirimkan para misionaris ke berbagai negara.

Meskipun ia demikian murah hati, namun demikian, dengan rendah hati ia mengakui bahwa sifat dasarnya tidaklah demikian. “Jika bukan karena kasih karunia Tuhan, aku ini seorang yang keras, kasar serta mudah marah,” katanya. Santo Vinsensius a Paulo wafat di Paris, Perancis pada tanggal 27 September 1660. Ia dinyatakan kudus pada tahun 1737 oleh Paus Klemens XII.

Selamat pesta nama bagi umat/wilayah/komunitas bernama pelindung Vinsensius a Paulo. Santo Vinsensius a Paulo, doakanlah kami.

Sumber: https://katakombe.org/para-kudus/september/vinsensius-de-paul.html

Posted by Komsos Paroki in Peringatan Gerejawi

Santo Padre Pio dari Pietrelcina

Santo Padre Pio adalah seorang biarawan Fransiskan Kapusin dari Biara San Giovanni Rotondo di Foggia Italia. Ia adalah seorang mistikus Gereja Katolik yang hidupnya penuh dengan mujizat dan karunia rohani. Tuhan menganugerahkan kepadanya begitu banyak karunia rohani. Padre Pio memperoleh karunia stigmata, osmogenesia, bilokasi, levitasi, teleportasi, penglihatan, membaca pikiran orang lain, karunia penyembuhan, dan bahkan ia pernah membangkitkan seorang gadis yang sudah dinyatakan meninggal.  Setiap hari selalu ada ratusan bahkan ribuan orang yang berusaha untuk bertemu dengannya.  

Francesco Forgione dilahirkan pada tanggal 25 Mei 1887 di sebuah kota kecil bernama Pietrelcina, Italia selatan, dalam wilayah Keuskupan Agung Benevento. Ia adalah anak kelima dari delapan putera-puteri keluarga petani Grazio Forgione dan Maria Giuseppa De Nunzio (Mamma Peppa). Mamma Peppa mengenangnya sebagai anak yang berbeda dari anak-anak lain sebayanya, “Ia tidak pernah tidak sopan ataupun bersikap tidak pantas.” Sejak usia lima tahun, Francesco dianugerahi penglihatan-penglihatan surgawi dan juga mengalami penindasan-penindasan setan. Ia melihat dan berbicara dengan Yesus dan Santa Perawan Maria, juga dengan malaikat pelindungnya, sayangnya, kehidupan surgawi ini disertai pula oleh pengalaman tentang neraka dan setan. Ketika usianya duabelas tahun, Francesco kecil menerima Sakramen Penguatan dan menyambut Komuni Pertama.

Pada tanggal 6 Januari 1903, terdorong oleh semangat yang bernyala-nyala, Francesco yang kala itu berusia enambelas tahun masuk novisiat Biarawan Kapusin di Morcone. Pada tanggal 22 Januari, Francesco menerima jubah Fransiskan dan menerima nama Broeder Pio. Di akhir tahun novisiat, Broeder Pio mengucapkan kaul sederhana, yang dilanjutkan dengan kaul meriah pada tanggal 27 Januari 1907. Karena kesehatannya yang buruk, setelah ditahbiskan sebagai imam pada tanggal 10 Agustus 1910 di Katedral Benevento, Padre Pio harus tinggal kembali bersama keluarganya. Para dokter yang mendiagnosanya memaklumkan bahwa ia mengidap infeksi paru-paru dan bahwa masa hidupnya hanya tinggal sebulan saja.

Meski demikian, setelah enam tahun bergulat dengan penyakitnya, kesehatan Santo Padre Pio mulai membaik. Pada bulan September 1916, Santo Padre Pio diutus ke rumah Biara San Giovanni Rotondo, di mana ia tinggal hingga akhir hayatnya. Bagi Santo Padre Pio, iman adalah hidup. Ia menghendaki segala sesuatu dan mengerjakan segala sesuatu dalam terang iman. Seringkali ia tampak tenggelam dalam doa-doa yang khusuk. Ia melewatkan siang hari dan sebagian besar malam hari dalam percakapan mesra dengan Tuhan. Santo Padre Pio akan mengatakan, “Dalam kitab-kitab kita mencari Tuhan, dalam doa kita menemukan-Nya. Doa adalah kunci yang membuka hati Tuhan.” Iman membimbingnya senantiasa untuk menerima kehendak Allah yang misterius.   

Pada tanggal 20 September 1918, sementara berdoa di depan sebuah salib di kapel tua, sekonyong-konyong suatu sosok seperti malaikat memberinya stigmata. Stigmata itu terus terbuka dan mencucurkan darah selama limapuluh tahun. Dalam surat tertanggal 22 Oktober 1918 kepada Padre Benedetto, pembimbing rohaninya, Santo Padre Pio mengisahkan pengalaman penyalibannya. Ia menjadi imam pertama yang menerima stigmata Kristus. Para superiornya berusaha merahasiakan kejadian itu, kendati demikian, berita segera menyebar dan ribuan orang berduyun-duyun datang ke biara yang terpencil itu, baik mereka yang saleh maupun mereka yang sekedar ingin tahu. Sesungguhnya, setiap pagi, sejak pukul empat dini hari, selalu ada ratusan orang dan terkadang bahkan ribuan orang menantinya.

Santo Padre Pio tidur tak lebih dari dua jam setiap harinya dan tak pernah mengambil cuti barang sehari pun selama limapuluh tahun imamatnya! Ia biasa bangun pagi-pagi buta guna mempersiapkan diri mempersembahkan Misa Kudus. Setelah Misa, Santo Padre Pio biasa melewatkan sebagian besar harinya dalam doa dan melayani Sakramen Pengakuan Dosa. Hidupnya penuh dengan berbagai karunia mistik, termasuk kemampuan membaca batin para peniten, bilokasi, levitasi dan jamahan yang menyembuhkan. Darah yang mengucur dari stigmatanya mengeluarkan bau harum mewangi atau harum bunga-bungaan.

Santo Padre Pio memiliki dua prakarsa dalam dua arah: arah vertikal kepada Tuhan, dengan membentuk ‘kelompok doa’ pada tahun 1920 yang masih aktif hingga kini dengan 400.000 pendoa yang tersebar di seluruh dunia. Arah horizontal kepada komunitas yang menderita, dengan mendirikan sebuah rumah sakit modern ‘Casa Sollievo della Sofferenza’ (rumah untuk meringankan penderitaan) yang dibuka pada tanggal 5 Mei 1956, dan hingga kini melayani sekitar 60.000 pasien setiap tahunnya.

Selama lima puluh tahun imamatnya, Santo Padre Pio menjalin persatuan yang akrab mesra dengan Tuhan melalui Ekaristi Kudus. Yang paling luar biasa dalam hidupnya bukanlah mukjizat, penyembuhan ataupun pertobatan orang dengan perantaraannya, melainkan pelayanannya di altar, mempersembahkan kurban Kudus Misa, dimana ia menjadi satu dengan Kristus yang tersalib. Santo Padre Pio dengan tulus menganggap diri sebagai tidak berguna, tidak layak menerima anugerah-anugerah Tuhan, penuh kelemahan dan cacat cela, walau demikian diberkati dengan karunia-karunia ilahi. Di tengah kekaguman orang terhadap dirinya, Padre Pio akan mengatakan, “Aku hanya ingin menjadi seorang biarawan miskin yang berdoa.”

Sejak masa muda, kesehatan Santo Padre Pio amat rapuh, dan semakin memburuk keadaannya pada tahun-tahun terakhir masa hidupnya. Pada tanggal 23 September 1968, pukul 02.30 dini hari, dalam usia delapanpuluh satu tahun, maut datang menjemputnya dalam keadaan siap lahir batin, damai dan tenang. Segera setelah ia wafat, kamarnya dipenuhi bau harum semerbak selama beberapa saat lamanya, seperti bau harum yang memancar dari luka-lukanya selama limapuluh tahun penderitaannya; stigmata tak lagi tampak, tak terlihat sama sekali adanya darah ataupun tanda-tanda bekas luka.

Pada tanggal 20 Februari 1971, belum genap tiga tahun setelah wafat Santo Padre Pio, Paus Paulus VI berbicara mengenainya kepada para Superior Ordo Kapusin,  “Lihat, betapa masyhurnya dia, betapa seluruh dunia berkumpul sekelilingnya! Tetapi mengapa? Apakah mungkin karena ia seorang filsuf? Karena ia bijak? Karena ia cakap dalam pelayanan? Sama sekali tidak. Melainkan karena ia mempersembahkan Misa dengan rendah hati, mendengarkan pengakuan dosa dari fajar hingga gelap dan – tak mudah mengatakannya – ia adalah seorang yang menyandang luka-luka Tuhan kita. Ia adalah manusia yang berdoa dan yang menderita….”

Santo Padre Pio dinyatakan sebagai Venerabilis pada tanggal 18 September 1997 oleh Paus Yohanes Paulus II. Pada tanggal 2 Mei 1999 dibeatifikasi dan akhirnya dikanonisasi pada tanggal 16 Juni 2002 di Roma, oleh Paus yang sama. Gereja memaklumkan pesta liturgis Santo Padre Pio dari Pietrelcina dirayakan pada tanggal 23 September.

Selamat pesta nama bagi umat/wilayah/komunitas bernama pelindung Padre Pio. Santo Padre Pio, doakanlah kami.

Sumber: https://katakombe.org/para-kudus/september/padre-pio.html

Posted by Komsos Paroki in Peringatan Gerejawi

Santo Matius

Santo Matius, anak Alfeus adalah seorang Yahudi dari Galilea. Dia adalah seorang pemungut cukai di Kota Kapernaum. Pada zaman itu para penarik pajak/pemungut cukai Kerajaan Romawi dipilih oleh para pejabat lokal Romawi dari penduduk setempat yang dianggap dapat diajak bekerja sama. Mereka diberikan kewenangan untuk menarik pajak namun sama sekali tidak diberi gaji atas pekerjaan mereka. Karena itu para pemungut cukai ini biasanya menarik pajak lebih tinggi dari jumlah yang seharusnya mereka tagih dan kelebihan ini dianggap sebagai upah mereka.

Karena profesinya ini Santo Matius sangat dibenci oleh orang-orang sebangsanya. Mereka tidak mau berhubungan dengan ‘orang-orang berdosa’ seperti dia. Namun, Yesus tidak berpikir demikian terhadap Santo Matius. Sebagai murid dan rasul, dia sejak saat itu mengikuti Kristus, menyertai-Nya sampai saat sengsara dan wafat-NYA. Santo Matius adalah salah satu saksi dari kebangkitan-Nya. Dia juga di antara para rasul yang hadir di Yesus naik ke surga. Di Yerusalem ia ikut berdoa dalam persatuan dengan Maria, Bunda Yesus, dan dengan para rasul yang lain. Pada saat itu Roh Kudus pun turun diatas mereka.

Kisah hidup Santo Matius selanjutnya kurang jelas. Santo Ireneus mengatakan bahwa Matius memberitakan Injil di antara orang-orang Yahudi. Santo Klemens dari Alexandria menguatkan pernyataan ini dan mengatakan bahwa Santo Matius merasul di kalangan orang Yahudi selama lima belas tahun, lalu ia pergi mewartakan Injil ke negara-negara lain. Hampir semua menyebutkan bahwa Santo Matius pergi ke Ethiopia di selatan Laut Kaspia (bukan Ethiopia di Afrika), dan di beberapa wilayah Kerajaan Persia dan Kerajaan Partia, Makedonia, dan Suriah.

Santo Matius adalah penulis Injil Matius dan merupakan kitab pertama dalam Perjanjian Baru. Injil ini ditulis Santo Matius untuk pembaca Yahudi demi meyakinkan mereka bahwa Mesias yang dinanti-nantikan telah datang dalam diri Yesus Kristus. Ada ketidaksepakatan mengenai tempat kemartiran Santo Matius dan penyiksaan yang menyebabkan kematiannya. Tidak diketahui dengan pasti apakah ia menjadi martir dengan cara dibakar, dirajam, atau dipenggal.  Dalam buku Martirologi Romawi hanya tertulis : “S. Matthaei, qui di Æthiopia prædicans martyrium passus est”, yang artinya: “Santo Matius Rasul menderita kemartiran di Ethiopia.”

Gereja Latin merayakan pesta Santo Matius pada tanggal 21 September, dan Gereja Yunani pada tanggal 16 November. Santo Matius digambarkan dengan simbol seorang pria bersayap, membawa tombak di tangannya sebagai lambang karakteristik.

Selamat pesta nama bagi umat/wilayah/komunitas bernama pelindung Matius. Santo Matius, doakanlah kami.

Sumber: https://katakombe.org/para-kudus/september/matius.html

Posted by Komsos Paroki in Peringatan Gerejawi

Santo Gregorius Agung

Santo Gregorius Agung dilahirkan pada tahun 540 di Roma dalam keluarga bangsawan Kristiani yang saleh.  Ayahnya Gordianus, adalah seorang anggota Majelis Tinggi Roma dan ibunya adalah Santa Silvia dari Roma.  Dua orang saudari ibunya juga adalah orang kudus, yaitu Santa Emiliana dan Santa Tarsilla. Leluhurnya adalah Santo Paus Felix III.

Sebagai seorang anak keluarga bangsawan; Gregorius mendapatkan pendidikan dari guru-guru terbaik di kota Roma. Ia adalah seorang pelajar yang sangat cerdas dan berprestasi. Bahkan dalam usia yang masih amat muda ia telah diangkat menjadi Prefektur (Walikota) kota Roma. Sepertinya ia akan mengikuti jejak ayahnya menjadi seorang politisi Romawi yang handal. Namun Tuhan rupanya memiliki rencana lain untuk Gregorius.

Ketika ayahnya meninggal, Gregorius menjadi sangat sedih. Melihat jenazah ayah yang dicintainya terbujur kaku menyadarkan Gregorius akan kefanaan duniawi. Gregorius lalu memutuskan untuk menjalani hidup religius. Ia mengundurkan diri jabatan politiknya, lalu merombak rumahnya yang besar menjadi sebuah biara Benediktin. Selama beberapa tahun ia hidup sebagai seorang biarawan Benediktin yang saleh dan kudus. Kekudusannya membuat Bapa Paus Pelagius kemudian mengangkatnya menjadi salah seorang dari tujuh diakon untuk kota Roma.

Ketika Paus wafat, Diakon Gregorius dipilih untuk menggantikannya. Gregorius sama sekali tidak menginginkan kehormatan seperti itu. Ia lebih senang hidup dalam keheningan dibiaranya. Ia berusaha menolak; namun semua orang hanya menginginkan Gregorius untuk menjadi Paus. Semua orang tahu bahwa ia akan menjadi seorang Paus yang baik dan mereka menaruh harapan padanya. Gregorius lalu berusaha menghindar dengan menyamar dan menyembunyikan diri dalam sebuah gua, tetapi akhirnya umat dapat menemukannya.  Mereka membawanya kembali ke Roma. Gregorius tidak bisa menolak lagi. Ia pasrah saja saat dilantik menjadi Paus.

Dan pilihan umat di Roma memang tidak salah. Selama empat belas tahun kemudian, Gregorius mampu memimpin Gereja dengan gemilang. Walau kesehatannya tidak selalu prima, namun Gregorius merupakan salah seorang Paus terbesar dalam sejarah Gereja.  Ia menulis banyak buku dan juga merupakan seorang pengkhotbah yang ulung. Ia menggubah, mengumpulkan dan membukukan lagu-lagu Liturgi hingga sampai saat ini nyanyian liturgi tersebut masih tetap diasosiasikan dengan dirinya (Lagu-lagu Gregorian).

Ia mencurahkan perhatiannya kepada segenap umat manusia. Malah sesungguhnya, ia menganggap dirinya sebagai pelayan bagi semua orang.  Ia adalah Paus pertama yang menggelari dirinya sebagai “hamba dari para hamba Allah” (Servus Servorum Dei). Bagi Gregorius ini bukan hanya sekedar gelar, karena ia sangat menjiwai dan menjalaninya dalam setiap pelayanannya. Gelar ini  masih terus dipakai oleh para Paus sampai hari ini.

Santo Gregorius memberikan perhatian serta cinta kasih istimewa kepada orang-orang miskin serta orang-orang asing. Setiap hari ia biasa menjamu mereka dengan makanan yang enak. Ia juga amat peka terhadap penderitaan orang banyak yang disebabkan oleh ketidakadilan. Suatu ketika, semasa ia masih seorang biarawan, ia melihat banyak anak-anak diperjual belikan sebagai budak. Ia bertanya dari mana anak-anak itu berasal dan diberitahu bahwa mereka berasal dari Inggris. Santo Gregorius merasakan suatu keinginan yang kuat untuk pergi ke Inggris untuk mewartakan kasih Yesus kepada orang-orang yang belum mengenal Tuhan itu. Setelah ia menjadi Paus, salah satu hal pertama yang dilakukannya adalah mengirimkan biarawan-biarawan terbaiknya: Santo Agustinus dari Centerbury bersama 40 rekan biarawan, untuk memperkenalkan Kristus kepada rakyat Inggris. Paus Gregorius juga mengirimkan para biarawan untuk menyebarkan iman Kristiani ke Perancis, Spanyol, dan Afrika.

Tahun-tahun terakhir hidupnya dipenuhi oleh banyak penderitaan, namun demikian ia tetap bekerja untuk Gerejanya yang tercinta hingga akhir hayatnya. Santo Gregorius wafat pada tanggal 12 Maret 604.

Selamat pesta nama bagi umat/wilayah/komunitas bernama pelindung Gregorius Agung. Santo Gregorius Agung, doakanlah kami.

Sumber: https://katakombe.org/para-kudus/gregorius-agung.html

Posted by Komsos Paroki in Peringatan Gerejawi