Berita

Berbagi Kebahagiaan, Berkat Bagi Sesama

Berbagi Kebahagiaan, Berkat Bagi Sesama

Bertepatan dengan Hari Raya Pembaptisan Tuhan (Epifani), Gereja universal memperingati Hari Anak dan Remaja Misioner Sedunia ke-178 pada 3 Januari 2021. Ditengah situasi pandemi Covid-19 dan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat, SEKAMI-PPA Gereja Santa Perawan Maria Yang Terkandung Tanpa Noda – Paroki Kelayan mengadakan perayaan syukur ulang tahun Serikat Kepausan Anak dan Remaja Misioner (SEKAMI) ke-178 tahun dengan Misa syukur dan rekoleksi online.
Misa syukur ulang tahun SEKAMI dilaksanakan pada pkl 09.30 WITA dan dipimpin oleh RP. Ferdinandus Taran, MSC. Sedangkan, petugas liturgi seperti lektor, pemazmur, koor, dan persembahan oleh SEKAMI-PPA. Ditampilkan juga dalam Misa, figur Tiga Majus dari Timur yang diperagakan oleh remaja SEKAMI-PPA berpakaian adat Bali, Banjar, dan Batak.


Dalam homilinya, Pastor Edi mengajak anak dan remaja misioner agar menjadi garam dan terang di tengah dunia, serta membaktikan hidupnya bagi Tuhan dan sesama melalui hidup sehari-hari dalam laku 2D2K (Doa, Derma, Kurban, dan Kesaksian). Hal ini sesuai dengan tema HARMS ke-178, “Anak Misioner, Hidup Bagi Tuhan dan Sesama” dan harapan dari pendiri SEKAMI, Mgr. Charles Auguste Marie de Forbin Janson.
Seusai Misa, anak dan remaja misioner melanjutkan kegiatan dengan mengikuti rekoleksi online yang dikemas dalam Virtual Missionary Festival (VIRAL). Pertemuan virtual ini dibawakan oleh Direktur Diosesan (Dirdios) Karya Kepausan Indonesia – Komisi Karya Misioner (KKI-KKM) Keuskupan Banjarmasin, RP. Petrus Ping Poto, MSF. VIRAL dilaksanakan melalui ZOOM Meeting Cloud dan disiarkan secara langsung melalui YouTube Channel Santamariayttn (sekarang: immaculataTV).
Pastor Ping dalam pesannya mengajak seluruh anak dan remaja misioner agar selalu memiliki kerinduan untuk dekat dengan Tuhan melalui doa sebagai sarana untuk bertemu dengan Yesus, mencintai sesama, serta selalu bersyukur khususnya di tengah situasi pandemi Covid-19 ini. “Berbagi kebahagiaan adalah berkat bagi sesama”, kata Pastor Misionaris Keluarga Kudus yang juga Kepala Gereja Santo Yohanes Pemandi – Paroki Landasan Ulin itu.
Pertemuan virtual ini dirancang untuk memfasilitasi anak dan remaja misioner yang tidak diperkenankan hadir dan berkumpul secara fisik di gereja, demi menekan penyebaran dan penularan Covid-19. Tercatat, sekitar 40 partisipan hadir secara virtual. Mereka berasal dari berbagai paroki di Keuskupan Banjarmasin, seperti Gereja Keluarga Kudus – Paroki Katedral, Gereja Santa Perawan Maria Yang Terkandung Tanpa Noda – Paroki Kelayan, Gereja Hati Yesus Yang Maha Kudus – Paroki Veteran, Gereja Ave Maria – Paroki Tanjung, Gereja Bunda Maria – Paroki Banjarbaru, Gereja Santo Yohanes Pemandi – Paroki Landasan Ulin, Gereja Santa Theresia – Paroki Pelaihari, serta Gereja Santo Vinsensius a Paulo – Paroki Batulicin. Bahkan, ada pula partisipan dari Keuskupan Palangka Raya. cio

Posted by Komsos Paroki in Berita, Liputan
NOTE: HARI MINGGU SABDA ALLAH

NOTE: HARI MINGGU SABDA ALLAH

Prot. N. 602/20

Foto: katoliknews.com

Hari Minggu Sabda Allah, yang ditetapkan Paus Fransiskusuntuk dirayakan setiap tahun pada hari Minggu Biasa Ketiga, akan berlangsung pada tanggal 24 Januari 2021. Dalam catatan yang diterbitkan 17 Desember 2020, Kongregasi Ibadah Ilahi dan Disiplin Sakramen mengembangkan sepuluh poin untuk lebih menyoroti Sabda Tuhan selama perayaan liturgi dan hubungannya dengan liturgi. Berikut terjemahannya, semoga membantu.

Hari Minggu Sabda Tuhan, yang ditetapkan Paus Fransiskus pada hari Minggu Biasa III setiap tahun, mengingatkan kita semua, para imam dan umat beriman, juga akan pentingnya makna dan nilai Kitab Suci bagi kehidupan iman Kristiani, bahwa ada hubungan antara Sabda Allah dan Liturgi: “Sebagai orang kristiani kita merupakan satu bangsa yang berjalan dalam sejarah, kuat berkat kehadiran Tuhan di tengah-tengah kita.  Dia berbicara kepada kita dan memberi kita makan. Hari yang diperuntukkan bagi Alkitab ingin bukan – satu kali setahun‖, namun satu kali untuk seluruh tahun, agar kita merasa sungguh perlu menjadi bersahabat dan intim dengan Kitab Suci dan Dia yang bangkit, yang tidak berhenti membagikan Sabda dan Roti di dalam komunitas umat beriman. Untuk itu kita perlu masuk dalam keyakinan tetap dengan Kitab Suci, jika tidak maka hati akan tetap dingin dan mata tetap tertutup, kita bagaikan terserang begitu banyak bentuk kebutaan.”

Oleh karena itu, Minggu ini adalah kesempatan yang baik untuk membaca ulang dokumen gerejawi tertentu dan terutama Prænotanda dari Ordo Lectionum Missæ, yang menyajikan suatu sintese dari prinsip-prinsip teologis, perayaan dan pastoral tentang Sabda Allah yang dimaklumkan dalam Perayaan Ekaristi, tetapi juga berlaku dalam perayaan liturgi apa pun (sakramen, sakramentalia, brevir/ Ibadat Harian).

1.     Melalui bacaan Kitab Suci yang diwartakan dalam liturgi, Tuhan berbicara kepada umat-Nya dan Kristus sendiri mewartakan Injil-Nya; Kristus adalah pusat dan kepenuhan dari semua Kitab Suci, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Mendengarkan Injil, yang merupakan puncak dari Liturgi Sabda, ditandai dengan penghormatan khusus, yang diekspresikan tidak hanya dengan gerak tubuh dan aklamasi, tetapi oleh Kitab Injil (Evangeliarium) itu sendiri. Salah satu kemungkinan ritual yang cocok untuk hari Minggu ini adalah prosesi masuk dengan Evangeliarium atau, jika tidak ada prosesi, Evangeliarium sudah ditempatkan di altar.

2.    Urutan bacaan Kitab Suci yang ditetapkan oleh Gereja dalam Lectionary membuka jalan untuk memahami keseluruhan Firman Tuhan. Oleh karena itu, perlu mengikuti bacaan yang ditunjukkan, tanpa mengganti atau menghapusnya, dan menggunakan versi Alkitab yang disetujui untuk penggunaan liturgi. Pewartaan teks Kitab Suci merupakan ikatan persatuan antara semua umat beriman yang mendengarkannya. Memahami struktur dan tujuan liturgi Sabda membantu umat beriman untuk menyambut Sabda Allah yang menyelamatkan.

3.    Diromendasikan untuk menyanyikan Mazmur Tanggapan, yang merupakan tanggapan Gereja dalam doa; oleh karena itu para pemazmur di setiap komunitas harus ditingkatkan.

4.    Dalam homili, dimulai dengan pembacaan Kitab Suci, misteri iman dan norma-norma kehidupan Kristen dijelaskan sepanjang tahun liturgi.“… para Gembala memiliki tanggungjawab besar untuk menjelaskan dan mengijinkan kepada semua untuk memahami Kitab Suci. Karena Kitab Suci adalah kitab umat, maka mereka yang memiliki panggilan menjadi pelayan Sabda harus merasakan kemendesakan yang besar untuk menjadikannya bisa diakses oleh komunitas.” Para uskup, imam, dan diakon harus mengembangkan komitmen untuk menyelesaikan pelayanan ini dengan dedikasi khusus, dengan memanfaatkan sarana yang ditawarkan oleh Gereja.

5.    Keheningan (saat hening) adalah sesuatu yang sangat penting: mendorong meditasi, dan memungkinkan Sabda Tuhan diterima secara batin oleh mereka yang mendengarkannya.

6.    Gereja selalu memberikan perhatian khusus kepada orang-orang yang mewartakan Sabda Allah di hadapan umat beriman: para imam, diakon dan lektor. Pelayanan ini membutuhkan persiapan khusus, baik secara batiniah maupun secara lahiriah, keakraban dengan teks yang akan diberitakan dan latihan yang diperlukan untuk memproklamasikannya dengan jelas, menghindari improvisasi apapun. Dimungkinkan untuk mendahului bacaan dengan pengantar yang tepat dan singkat.

7.    Oleh karena pentingnya makna Sabda Allah,  Gereja menghimbau agar kita memberi perhatian khusus pada Ambo, yang darinya Sabda Allah diwartakan. Hal ini  bukan semata karena sebuah perabot fungsional, melainkan tempat yang sesuai dengan martabat Sabda Allah, sama seperti dengan dengan altar: sebenarnya, kita berbicara tentang meja Sabda Allah dan meja Tubuh Kristus, dengan mengacu pada ambo dan terutama altar. Ambo digunakan untuk membaca Sabda Allah dari Kitab Suci, menyanyikan mazmur tanggapan dan exultet; menyampaikan homili dan doa umat; kurang tepat digunakan untuk menyampaikan komentator, pengumuman, memandu lagu (dirigen).

8.    Buku-buku yang berisi bacaan dari Kitab Suci membangkitkan semangat mereka yang mendengarkannya dengan penuh hormat akan misteri Allah yang berbicara kepada umat-Nya. Dengan alas an ini, kami mohon perhatian diberikan untuk memastikan buku-buku ini berkualitas tinggi dan digunakan dengan benar. Tidaklah pantas menggunakan selebaran, fotokopi dan alat bantu pastoral lainnya sebagai pengganti buku liturgi.

9.    Menjelang atau pada hari-hari setelah hari Minggu Sabda Allah diajurkan untuk mengadakan pendalaman iman atau pembinaan, untuk menggarisbawahi nilai dan pentingnya Kitab Suci dalam perayaan liturgi; hal ini dapat menjadi kesempatan untuk mempelajari lebih lanjut tentang bagaimana cara Gereja dalam doa membaca Kitab Suci dengan bacaan terus menerus, semi-kontinyu dan tipologis, dan untuk menjelaskan apa kriteria dalam liturgi untuk menawarkan bacaan Kitab Suci sepanjang Tahun Liturgi pada Hari Minggu dan Hari Raya, serta hari-hari biasa dalam pekan.

10.   Hari Minggu Sabda Tuhan juga merupakan kesempatan yang tepat untuk memperdalam hubungan antara Kitab Suci dan Doa Brevir, mendoakan Mazmur dan Kidung dalam ibadat harian, serta pembacaan Kitab Suci. Hal tersebut bisa dilakukan dengan menggalakkan perayaan bersama dalam komunitas umat beriman pada saat Laudes dan Vesper.

Di antara banyak Orang Suci, yang semuanya bersaksi tentang Injil Yesus Kristus, Santo Hieronimus dapat diusulkan sebagai teladan karena kasihnya yang begitu besar bagi Sabda Allah. Seperti yang dikenang Paus Fransiskus baru-baru ini, dia adalah seorang “peneliti, penerjemah, dan penafsir yang tak kenal lelah. [Dia memiliki] pengetahuan yang mendalam tentang Kitab Suci, [dan] dan mempopulerkannya dengan penuh semangat. […] Di dalam mendengarkan Kitab Suci itulah, St. Hieronimus mengenal dirinya sendiri dan menemukan wajah Tuhan dan wajah saudara-saudaranya. Dia juga menegaskan ketertarikannya dalam kehidupan komunitas ”.

Tujuan dari Catatan ini adalah untuk membangkitkan kembali, dalam terang Hari Minggu Sabda Allah, kesadaran akan pentingnya Kitab Suci bagi kehidupan kita sebagai orang percaya, dimulai dengan resonansinya dalam liturgi yang menempatkan kita pada dialog hidup dan permanen dengan Tuhan. “Sabda Tuhan, yang didengarkan dan dirayakan, terutama dalam Ekaristi, memelihara dan memperkuat batin orang-orang Kristen, memungkinkan mereka untuk memberikan kesaksian yang otentik tentang Injil dalam kehidupan sehari-hari”.

Kongregasi Ibadat Ilahi dan Disiplin Sakramen, 17 Desember 2020

Robert  Card. Sarah (Prefek)

✠ Arthur Roche (Uskup Agung Sekertaris)

Posted by Komsos Paroki in Berita, 0 comments
Kursus Evangelisasi Pribadi Angkatan Pertama

Kursus Evangelisasi Pribadi Angkatan Pertama

Setiap akhir misa, selalu ada berkat perutusan dari romo selebran. Kita bukan diutus untuk pulang, melainkan pergi mewartakan kabar sukacita ke berbagai tempat. Namun, kita tidak bisa membagikan sesuatu yang belum dimiliki. Oleh sebab itu Paroki Santa Maria YTTN mengadakan Kursus Evangelisasi Pribadi (KEP) sebagai tempat untuk belajar menemukan sukacita kita masing-masing.

Diharapkan kursus gratis ini bisa diikuti oleh semua umat Paroki Santa Maria YTTN, agar bisa melakukan tugas perutusannya dengan baik. Silakan datang langsung di jadwal yang tertera pada banner di atas, kursus dimulai pukul 18.00 WITA di Aula Syalom Paroki Santa Maria YTTN.

Posted by Komsos Paroki in Berita
Hari Perkawinan Sedunia Keuskupan Banjarmasin

Hari Perkawinan Sedunia Keuskupan Banjarmasin

Untuk memberikan gambaran umum mengapa Hari Perkawinan Sedunia (World Marriage Day) dilaksanakan di Keuskupan Banjarmasin, dan hal2 khas yg menjadi penanda atau ciri2 pelaksanaan Acaranya bisa disimak dalam tulisan ini:

Mengenal dan Memahami Perayaan Hari Perkawinan Sedunia (World Marriage Day)

Sejarah
Pada tahun 1981 beberapa pasang suami istri di Baton Roug, Lousiana, Amerika Serikatmerasa prihatin akan pergeseran nilai-nilai budaya pada perayaan hari Velentine. Kala itu acara-acara “kasih sayang” pada Valentine Day ala orang muda lebih berfokus pada cinta kasih yang bersifat Erros atau badaniah, yang menjurus pada praktek-praktek yang negatif. Maka beberapa pasang suami istri itu pergi menghadap walikota, gubernur, serta Uskup untuk meminta agar Valentine day dirayakan sebagai hari “Kami Percaya Terhadap Perkawinan” (“We Believe in Marriage” Day).
Salah satu acara dalam perayaan tersebut adalah Perayaan Ekaristi, dimana di dalamnya, para pasutri mengucapkan ikrar untuk melaksanakan dan menghormati keyakinan utama dalam perkawinan. Perayaan hari “kami percaya terhadap perkawinan” itu berjalan sukses dan menyebar ke seluruh negara bagian Amerika Serikat. Perayaan itu kemudian diadopsi sebagai salah satu perayaan dalam Marriage Encounter.
Pada tahun 1983, Hari “Kami Percaya terhadap Perkawinan” diubah menjadi “Hari Perkawinan Sedunia” (World Marriage Day) hingga sekarang. Perayaan-perayaannya pun sudah lebih terstruktur.
Pada tahun 1993, Paus Yohanes Paulus II memberikan restu apostolik terhadap “World Marriage Day”. Dengan demikian, sejak saat itu perayaan “World Marriage Day” menjadi perayaan dalam Gereja Katolik hampir di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Tujuan
Tujuan dari perayaan Perayaan Hari Perkawinan Sedunia adalah menghormati suami
istri sebagai kepala keluarga, yaitu unit basis dari masyarakat serta untuk menghormati dan menjunjung tinggi keindahan kesetiaan pasangan suami istri, pengorbanan dan kegembiraan dalam hidup perkawinan setiap hari. Artinya, pasutri diajak untuk menyadari dan menghangatkan kembali kesatuan hati diantara mereka, dan menyadari peran penting mereka memelihara kesatuan dalam keluarga.

Motto Hari Perkawinan Sedunia:
“Cintailah satu sama Lain” (Yohanes 15:12)

Kapan dirayakan
Perayaan Hari Perkawinan Sedunia dilakukan pada minggu kedua bulan Februari.

Simbol Hari Perkawinan Sedunia
Simbol Hari Perkawinan Sedunia adalah 2 lilin berbentuk manusia yang disatukan oleh sebuah gambar hati. Simbol lilin mengingatkan kita bahwa cinta perkawinan memanggil kita untuk membantu menerangi dunia. Pasangan disatukan oleh gambar hati berarti bahwa pasangan harus memusatkan pikiran dan hatinya pada cinta sebagai kekuatan yang mendorong persatuan pasangan dan melahirkan kemampuan untuk saling memberi hidup dan menginspirasi orang lain agar berhasil dan bersatu.

Oleh karena itu salah satu bagian dalam Perayaan Ekaristi Hari Perkawinan Sedunia adalah Pembaharuan Janji Perkawinan para pasutri sambal memegang dua lilin menyala yang disatukan dengan gambar hati.

Perayaan Hari Perkawinan Sedunia di Keuskupan Banjarmasin
Di Keuskupan Banjarmasin, Perayaan Hari Perkawinan Sedunia mulai dirayakan sejak tahun 2012 oleh anggota kelompok kategorial ME.

Pada tahun 2014, perayaan tidak hanya menjadi program dari kelompok kategorial ME, namun diangkat menjadi salah satu program dari Komisi Keluarga Keuskupan Banjarmasin dan melibatkan kelompok kategorial pemerhati keluarga lainnya.
Setahun kemudian, Komisi Keluarga Keuskupan Banjarmasin menetapkan bahwa pelaksanaan perayaan Hari Perkawinan Sedunia dilaksanakan secara bergiliran di tiga paroki di Dekanat Barat (Katedral, Kelayan, Veteran) serta Banjarbaru.

Sejak saat itu, Perayaan Hari Perkawinan Sedunia merupakan salah satu program kerja dari Komisi Keluarga Keuskupan Banjarmasin dan kegiatan berada di bawah koordinasi Komisi Keluarga Keuskupan Banjarmasin.

Pada tahun 2020 ini, Paroki Santa Perawan Maria Yang Terkandung Tanpa Noda ditunjuk sebagai tuan rumah Perayaan Hari Perkawinan Sedunia.

Kekhasan (yang harus ada) dalam Perayaan Hari Perkawinan Sedunia:

  1. Gapura bunga yg dilewati dlm perarakan sbg simbol para pasutri yg memasuki gerbang pernikahan n diberkati oleh Gereja
  2. Pasutri yg hadir dlm Perayaan Ekaristi mendapat 2 lilin yg disatukan oleh sebuah gambar hati sbg simbol bhw pasangan harus memusatkan hati dan pikirannya pada cinta.
  3. Para pasutri mengucapkan ikrar utk melaksanakan dan menghormati dan menjunjung tinggi keindahan kesetiaan pasangan suami istri.
  4. Dalam backdrop dipasang logo Hari Perkawinan Sedunia dan di dalamnya ada foto masing2 1 pasutri yg berulang tahun perkawinan 10 tahun, 25 tahun, 50 tahun, 60 tahun.
  5. Pasutri yang usia pernikahannya di atas 40 tahun ikut dalam perarakan dlm Perayaan Ekaristi dan diperlakukan secara “istimewa”
Posted by Komsos Paroki in Berita

[VIDEO] Natal Lansia Paroki Santa Maria YTTN

Terlewat mengikuti misa keluarga lansia? Simak lagi cuplikan misanya di channel Youtube Santamariayttn. Video ini diharapkan dapat menjadi pengingat kita untuk senantiasa menghargai orangtua, dan tidak mengeluh menghadapi mereka yang semakin lemah karena usianya.

Posted by Komsos Paroki in Berita

[FOTO] Misa Natal Keluarga Lansia

Misa yang menjadi puncak perayaan Natal 2019 di Paroki Santa Maria Yang Terkandung Tanpa Noda telah terlaksana dengan lancar pada Minggu (29/12) lalu. Setelah misa juga diselenggarakan acara hiburan untuk para lansia bersama keluarganya di Aula Syalom.

Konsep yang diusung masih sama dengan rangkaian sebelumnya, yaitu budaya Banjar. Maka dalam acara hiburan turut ditampilkan musik panting yang menjadi budaya musik khas Banjarmasin. Ada pula lagu dan tarian yang dipersembahkan wilayah-wilayah Paroki Santa Maria YTTN.

Continue reading →
Posted by Komsos Paroki in Berita
Kearifan Lokal Jadi Tema Ornamen Natal 2019 Di Gereja Santa Maria YTTN

Kearifan Lokal Jadi Tema Ornamen Natal 2019 Di Gereja Santa Maria YTTN

Teman nasional yang diangkat untuk natal tahun 2019 ini adalah Hidup Sebagai Sahabat Bagi Semua Orang. Dasarnya adalah kutipan ayat injil Yoh 15:14-15. Tema ini juga didukung dengan tampilan kearifan lokal, yaitu budaya Banjar, sesuai tempat tinggal kita.

Maka panitia natal 2019 ini memilih Rumah Adat Bubungan Tinggi sebagai bentuk goa natal kontekstual. Rumah ini merupakan bentuk rumah yang khas di Kalimantan Selatan. Selain itu, ornamen goa natal juga dilengkapi dengan jukung, kapal kecil tanpa mesin khas Banjarmasin.

Continue reading →
Posted by Komsos Paroki in Berita
Homili Misa Malam Natal, Romo Herry: Jaga Perdamaian

Homili Misa Malam Natal, Romo Herry: Jaga Perdamaian

Berbeda dari natal sebelumnya, panitia natal di gereja Santa Maria Yang Terkandung Tanpa Noda memilih tema adat Banjar. Mulai dari ornamen Gua Natal yang berupa rumah panggung, jukung, dan berbagai hiasan lain yang khas tanah banua. Semua berdampingan dengan atribut natal yang biasa digunakan.

Romo Albert yang memimpin misa mengatakan bahwa dalam perayaan natal tahun ini, umat diingatkan bahwa Yesus juga lahir di hati kita, umat Kelayan, di tanah banua ini.

Continue reading →
Posted by Komsos Paroki in Berita

Pembekalan Pemandu Pendalaman Iman Masa Adven 2019

Untuk menyambut masa adven 2019, Dekenat Barat kembali mengadakan pembekalan untuk pemandu pendalaman iman pada hari Selasa (26/11) di Aula Syalom Paroki Santa Perawan Maria Yang Terkandung Tanpa Noda. Pemandu yang hadir tercatat berjumlah 140 orang.

Pembekalan diberikan oleh RD. Antonius Bambang Doso Susanto ini menjelaskan tema pendalaman iman masa adven Keuskupan Banjarmasin tahun 2019 ini, Mendalami dan Merenungkan Tahun Evaluasi dan Syukur. Selain itu, dijelaskan pula dokumen pendukung dari Lumen Gentium, Maximum Illud, dan Evangelii Gaudium.

Continue reading →
Posted by Komsos Paroki in Berita

Logo Baru di Umur 80 Tahun

Logo Baru

Betepatan pada perayaan HUT Paroki Santa Perawan Maria Yang Terkandung Tanpa Noda Banjarmasin yang ke-80 yang diselenggarakan pada tanggal 23 November 2019, Paroki secara resmi mengumumkan Logo Paroki yang baru. Logo berbentuk bulat ini memperbarui logo lama yang berbentuk Oval. Paroki ingin memberikan penyegaran pada logonya yang setelah sekian lama logo tersebut hanya berupa gambar Bunda Maria tanpa identitas atau tulisan Paroki. Pada bagian luar logo terdapat lingkaran dengan motif geometrik yang berwarna-warni yang melambangkan bahwa Paroki telah malalui berbagai macam peristiwa-peristiwa yang telah mengubah Paroki menjadi seperti saat ini. Melalui peristiwa-peristiwa penting tersebut membuat Paroki menjadi semakin solid dan mandiri. “Dalam terang iman, kita meyakini bahwa di setiap saat atau peristiwa merupakan kairos atau kesempatan Allah melawati umatnya”, itulah yng disampaikan Mgr. Petrus Boddeng Timang pada sambutan peraayaan 75 tahun Paroki  yang lalu. Warna Pada lingkaran Logo Paroki juga dapat diartikan bahwa paroki ini berjalan dengan berbagai keanekaragaman mulai dari bahasa, budaya, umat, pemikiran serta generasi yang ketika disatukan memberikan keunikan.

Tetap mempertahankan Gambar Maria Lama

Logo Lama

Dengan tetap mempertahankan gambar Santa Perawan Maria Yang Terkandung Tanpa Noda dari logo lama, paroki ingin menunjukkan identitas Bunda Maria sebagai Pelindung Paroki serta mengingatkan kita spirit awal Paroki.

Posted by Komsos Paroki in Berita